Aksi Warga Air Limau Memanas, PT MPC Tak Tunjukkan Itikad Hadir
Demokrasiindonesia.com | Muara Enim — Unjuk rasa yang digelar masyarakat Desa Air Limau, Kecamatan Empat Petulai Dangku, pada Senin (6/4/2026), menjadi sorotan setelah pihak PT Musi Prima Coal (MPC) tidak terlihat hadir menemui massa.
Sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB, puluhan warga yang tergabung dalam Mitra Publik Petulai (MPP) telah berkumpul dengan tujuan menuntut kejelasan tanggung jawab perusahaan. Namun hingga aksi berlangsung, tak satu pun perwakilan PT MPC muncul untuk berdialog.
Ketiadaan respons tersebut memicu kekecewaan warga. Meski demikian, jalannya aksi tetap terkendali dengan pengamanan dari aparat Polsek Rambang, Polsek Gunung Megang, Sat Intelkam, serta unsur TNI.
Koordinator aksi, Insan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan puncak dari keresahan masyarakat yang sudah lama terpendam.
“Kami akan terus bertahan sampai ada kejelasan. Ini bukan sekadar aksi biasa, tapi bentuk tuntutan atas hak kami,” ujarnya.
Sebagai bentuk tekanan, warga mendirikan tenda di badan jalan yang mereka klaim sebagai akses milik masyarakat. Aksi tersebut dipicu oleh kondisi jalan yang tidak lagi berfungsi normal setelah adanya pembuatan parit oleh pihak perusahaan, yang dinilai dilakukan sepihak.
Situasi ini berdampak langsung terhadap aktivitas warga sehari-hari dan memperbesar ketegangan di lapangan.
Tiga Tuntutan Utama Warga
Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan yang hingga kini belum mendapatkan kepastian, di antaranya:
Dugaan dampak lingkungan yang belum ditangani secara maksimal
Minimnya penyerapan tenaga kerja lokal
Kesepakatan sebelumnya yang belum direalisasikan secara jelas
Warga menilai persoalan ini bukan lagi sekadar janji, melainkan menyangkut keadilan yang harus segera diwujudkan.
Selain itu, Insan juga meminta perhatian langsung dari Bupati Muara Enim, H. Edison, agar turun ke lokasi dan melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Kami berharap pemerintah daerah hadir langsung, bukan hanya menerima laporan. Masyarakat butuh solusi nyata,” tegasnya.
Aksi ini menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa kesabaran warga memiliki batas. Jika tidak ada respons serius, dikhawatirkan aksi lanjutan akan terjadi dengan skala yang lebih besar.(Ril)



Insert Text Here