Insert Text Here

SUMSEL

Satu Meja, Satu Tujuan: Dialog Efran dan Polres PALI untuk Demokrasi yang Lebih Sehat

PALI | Demokrasi Indonesia.com — Suasana santai namun penuh makna terasa dalam sebuah pertemuan di lingkungan Polres PALI, Kamis (26/03/2026). Duduk tanpa sekat formalitas yang kaku, Efran berbincang langsung dengan Kasat Intelkam Iptu Eko Purnomo, didampingi Iptu Najamuddin Hadi. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan ruang bertemunya gagasan antara dunia jurnalistik dan aparat penegak hukum.
Bagi Efran, langkah ini bukan tanpa beban masa lalu. Ia membawa pengalaman yang pernah menggoreskan luka dalam perjalanan profesinya. Namun alih-alih larut, pengalaman tersebut justru menjadi pijakan untuk memastikan hal serupa tidak kembali terulang—khususnya terkait perlindungan terhadap kerja jurnalistik.
Dalam dialog tersebut, Efran menegaskan pentingnya kebebasan pers sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Ia berharap ada jaminan nyata bahwa wartawan dapat bekerja tanpa bayang-bayang kriminalisasi.
Di sisi lain, Efran juga memaparkan rencana medianya untuk menggelar forum diskusi publik yang akan mengupas visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati PALI. Ia menekankan bahwa kegiatan tersebut bertujuan membuka ruang pemikiran kritis, bukan arena konflik kepentingan.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan ruang dialog yang sehat—tempat gagasan diuji, bukan emosi dipertajam. Diskusi ini dirancang menghadirkan berbagai unsur, mulai dari akademisi hingga praktisi, agar publik mendapatkan gambaran utuh tentang arah pembangunan daerah.
Menanggapi hal tersebut, Iptu Eko Purnomo menyampaikan sikap terbuka dan profesional. Ia melihat peran media sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas, terutama dalam menyampaikan informasi yang berimbang dan mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan.
Dukungan terhadap rencana diskusi pun disampaikan, sebagai bagian dari upaya bersama menciptakan iklim demokrasi yang sehat di Kabupaten PALI.
Pertemuan ini menegaskan bahwa hubungan antara media dan aparat tidak harus berada dalam posisi berseberangan. Justru melalui komunikasi yang terbuka, keduanya dapat berjalan beriringan—tanpa mengorbankan independensi masing-masing.
Di atas meja sederhana tempat pertemuan berlangsung, lahir sebuah pemahaman: bahwa keamanan dan kebebasan berekspresi bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi yang harus dijaga bersama demi masa depan PALI yang lebih baik.

BACA JUGA :  Aya Franky Nahkodai GOW Prabumulih, Wako Tekankan Peran Strategis Perempuan