Akibat Kecelakaan Kerja Rico Karyawan Kontrak PT, CKB Tidak Dapat Beraktivitas Seperti Biasa

PRABUMULIH,
Demokrasiindonesiapost.com – Pertemuan antara korban kecelakaan kerja, Riko, yang diwakili oleh DPC Bravo 5 Prabumulih, dan pihak PT. Cipta Karya Baru (CKB) dan juga pihak pemberi kerja pada perusahaan pengeboran tersebut, yakni PT. Pertamina EP Aset 2 Prabumulih. Rabu 20/01/2021.

Riko adalah karyawan kontrak di PT. Cipta Karya Baru (CKB) dengan masa kontrak 24 bulan, terhitung mulai Oktober 2019. Jabatannya di perusahaan ini adalah Floor Man (dengan sertifikat OL/ Operator Lantai Bor).

Kecelakaan yang dialaminya yakni terjatuh dari Dog House (Rumah Anjing, istilah untuk gudang kunci yang biasanya di tempatkan di Lantai Bor). saat Rig sedang operasi di lokasi TNB 06 Air Rambang. Sehingga membuat Riko mengalami cedera 3 buah tulang belakangnya bergeser, dan membuat dirinya mengalami cacat fisik, sakit pinggang, tangan dan kaki sering kaku, kepala bagian belakang sering pusing.

Ir. Heriyanto Ketua DPC Bravo 5 Prabumulih, yang juga sekaligus mantan anggota DPRD Kota Prabumulih, selaku perwakilan pihak korban, menyayangkan, tidak adanya pelaporan kecelakaan kerja oleh pengawas lapangan selaku penanggung jawab pekerjaan, padahal pada saat kecelakaan ada pengawas lapangan dari Pertamina, dan juga ada HSE dari PT. CKB.

Ironisnya PT. CKB Mempekerjakan karyawannya Riko, tanpa adanya Agreement atau kontrak kerja, hal ini disampaikan Heriyanto sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan tersebut, untuk dapat memberikan bantuan kepada Riko yang sudah  setahun lebih ini tidak bisa beraktivitas normal akibat kecelakaan yang dialaminya. Ada 8 poin yang dibacakan oleh Heriyanto tentang kronologis insiden yang dialami Riko.

baca juga:  Deni Trianza: Jabatan Itu Amanah

Menjawab dari pernyataan dari pihak Riko, manajemen PT. CKB, Tiara, mengakui kalau memang agreement dari Riko belum disampaikan karena mengalami beberapa kendala dengan pihak Disnaker Kota Prabumulih.

“Untuk kontrak kerja memang yang awalnya harusnya kami siapkan namun ada beberapa kendala yang harus kami perbaiki, namun sebelum dimulai kami melakukan sosialisasi awal tentang kontrak kerja tentang hak dan kewajiban karyawan di awal, dan mengenai kontrak kerja kami sampaikan di awal melalui lisan.” Ujar Tiara melalui Vidcon.

“Mengenai kecelakaan kerja saudara Riko kami mendapat infonya lebih kurang pada periode akhir 2020 yang lalu. kami mengetahui beliau mengalami kecelakaan kerja karena beliau tidak pernah hadir ke tempat kerja. Sehingga ada pemotongan gajinya yang kami ambil dari Variabel cost nya, yakni terdiri dari insentif kehadiran, kelebihan jam kerja, uang makan dan ekstra puding. Karena hal itu baru bisa dibagikan jika yang bersangkutan masuk kerja.”

Pertemuan antara korban kecelakaan kerja, Riko, yang diwakili oleh DPC Bravo 5 Prabumulih, dan pihak PT. Cipta Karya Baru (CKB) dan juga pihak pemberi kerja pada perusahaan pengeboran tersebut, yakni PT. Pertamina EP Aset 2 Prabumulih. Rabu 20/01/2021.

Riko adalah karyawan kontrak di PT. Cipta Karya Baru (CKB) dengan masa kontrak 24 bulan, terhitung mulai Oktober 2019. Jabatannya di perusahaan ini adalah Floor Man (dengan sertifikat OL/ Operator Lantai Bor).

baca juga:  3 Mobil Tabrakan Beruntun di Liku Panorama Lematang Dempo Selatan

Kecelakaan yang dialaminya yakni terjatuh dari Dog House (Rumah Anjing, istilah untuk gudang kunci yang biasanya di tempatkan di Lantai Bor). saat Rig sedang operasi di lokasi TNB 06 Air Rambang. Sehingga membuat Riko mengalami cedera 3 buah tulang belakangnya bergeser, dan membuat dirinya mengalami cacat fisik, sakit pinggang, tangan dan kaki sering kaku, kepala bagian belakang sering pusing.

Ir. Heriyanto Ketua DPC Bravo 5 Prabumulih, yang juga sekaligus mantan anggota DPRD Kota Prabumulih, selaku perwakilan pihak korban, menyayangkan, tidak adanya pelaporan kecelakaan kerja oleh pengawas lapangan selaku penanggung jawab pekerjaan, padahal pada saat kecelakaan ada pengawas lapangan dari Pertamina, dan juga ada HSE dari PT. CKB.

Ironisnya PT. CKB Mempekerjakan karyawannya Riko, tanpa adanya Agreement atau kontrak kerja, hal ini disampaikan Heriyanto sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan tersebut, untuk dapat memberikan bantuan kepada Riko yang sudah  setahun lebih ini tidak bisa beraktivitas normal akibat kecelakaan yang dialaminya. Ada 8 poin yang dibacakan oleh Heriyanto tentang kronologis insiden yang dialami Riko.

Menjawab dari pernyataan dari pihak Riko, manajemen PT. CKB, Tiara, mengakui kalau memang agreement dari Riko belum disampaikan karena mengalami beberapa kendala dengan pihak Disnaker Kota Prabumulih.

“Untuk kontrak kerja memang yang awalnya harusnya kami siapkan namun ada beberapa kendala yang harus kami perbaiki, namun sebelum dimulai kami melakukan sosialisasi awal tentang kontrak kerja tentang hak dan kewajiban karyawan di awal, dan mengenai kontrak kerja kami sampaikan di awal melalui lisan.” Ujar Tiara melalui Vidcon.

baca juga:  DPC GANN Prabumulih Akan Siapkan Rumah Rehabilitasi Gratis Bagi Korban Penyalahgunaan Narkotika

“Mengenai kecelakaan kerja saudara Riko kami mendapat infonya lebih kurang pada periode akhir 2020 yang lalu. kami mengetahui beliau mengalami kecelakaan kerja karena beliau tidak pernah hadir ke tempat kerja. Sehingga ada pemotongan gajinya yang kami ambil dari Variabel cost nya, yakni terdiri dari insentif kehadiran, kelebihan jam kerja, uang makan dan ekstra puding. Karena hal itu baru bisa dibagikan jika yang bersangkutan masuk kerja.”

Pihak keluarga Korban yakni Diska sebagai istri, mengharapkan agar pihak perusahaan dapat membantu keluarganya karena kondisi suaminya yang saat ini tidak dapat bekerja lagi.

“Kami sangat berharap agar pihak perusahaan CKB dan juga pihak Pertamina, dapat membantu kami, dengan kondisi suami saya yang tidak bisa lagi melakukan aktivitas saat ini, kami meminta agar gajinya dibayar full 100% tanpa ada potongan, agar dapat melanjutkan pengobatan suami saya,” ujarnya sambil terisak menahan tangis.

Wakil Ketua I DPRD Kota Prabumulih, H. Ahmad Palo, SE menyampaikan bahwa pada tanggal 1 Februari nanti hal tersebut bisa disampaikan.

“Nanti silahkan disampaikan pada tanggal 1 Februari mendatang ya ibu, dan kepada pak Heriyanto pada saat pertemuan dengan PT. CKB ajaklah Istri Saudara Riko ini, agar bisa menyampaikan permintaannya,” ujar Ahmad Palo menengahi. (Han/07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *