Tsunami Berawal dari Longsor Kawah Anak Krakatau Seluas 64 Hektare

JAKARTADemokrasiindonesiapost.com BMKG memastikan tsunami di Selat Sunda erat kaitannya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tsunami berawal dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan adanya longsor.
Bagian Gunung Anak Krakatau yang mengalami longsor adalah kepundan atau kawah di sisi barat daya. Bagian kawah Gunung Anak Krakatau yang longsor itu luasnya hingga 64 hektare.
“Luas area kolaps mencapai 64 hektare. Dalam waktu 24 menit menjadi tsunami di pantai,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta, Senin (24/12).di kutip dari kumparan.com

Menurut dia, longsoran kawah itu terjadi karena adanya gempa vulkanik yang diawali dengan erupsi Gunung Anak Krakatau serta curah hujan tinggi. “Kolapsnya itulah yang akhirnya mengakibatkan longsor di bawah laut dan menimbulkan tsunami,” kata dia.

baca juga:  Walikota Prabumulih Resmikan KA Prabujaya

Ia menambahkan bahwa tsunami di Selat Sunda itu tidak terpantau oleh sensor yang dimiliki oleh BMKG. Sebab, sensor BMKG hanya mendeteksi gempa tektonik. Sementara peristiwa tsunami pada Sabtu (22/12) malam itu berawal dari gempa vulkanik yang kemudian menyebabkan kawah Gunung Anak Krakatau longsor.
“Jadi BMKG ini memantau gempa-gempa tektonik. Dengan mendapatkan gempa tektonik, kami bisa memberikan informasi maksimum 5 menit apakah tsunami atau tidak,” kata dia.
Berdasarkan data BNPB hingga pukul 07.00 WIB, tsunami menyebabkan 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *